Rabu, 27 Januari 2010

Kajian Fonologi


KAJIAN FONOLOGI
*Hasan Busri*


1. Pendahuluan
Bahasa pada hakikatnya adalah bunyi. Dalam menggunakan bahasa, bunyi yang diucapkan berhubungan dengan arti tertentu. Seseorang yang menguasai bahasa tertentu dapat mengenal bunyi-bunyi itu dirangkaikan, sehingga merupakan ujaran yang bermakna. Demikian juga seorang penelaah/peneliti bahasa yang akan mendapatkan deskripsi atau hasil yang memuaskan, perlu mengetahui bunyi-bunyi bahasa dan pemakaiannya. Tanpa menguasai ilmu bunyi tersebut, mustahil akan mendapatkan hasil yang baik.
Bunyi-bunyi bahasa dalam suatu ujaran dapat diidentifikasi dengan metode atau teknik yang baisa digunakan dalam penelitian bahasa. Cabang linguistik yang mempelajari, menelaah, mengkaji bunyi bahasa pada umumnya disebut fonologi. Fonologi secara garis besar dibagi menjadi dua bagian, fonetik dan fonemik. Dua istilah inilah yang akan dikaji lebih lanjut.

2. Fonetik
Secara singkat dapat dikatakan bahwa fonetik merupakan studi tentang bunyi-bunyi ujaran. Sebagai ilmu, fonetik berusaha menemukan kebenaran-kebenaran umum dan memformulasikan hukum tentang bunyi-bunyi itu dan pengucapannya. Untuk membentuk kemahiran, fonetik menggunakan data deskriptif dasar dari fonetik ilmiah untuk memberikan kemungkinan-kemungkinan pengenalan dan produksi (pengucapan) bunyi-bunyi ujaran. Bunyi-bunyi ujaran dapat dipelajari dalam tiga aspek kajian. Pertama, bunyi dahasa dapat dipelajari dari aspek ujaran-ujaran yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Kajian ini dikenal dengan istilah fonetik artikulatoris. Kedua, bunyi bahasa dapat dipelajari pula dari aspek gelombang bunyi yang dihasilkan (diutarakan) dari suatu ucapan dan kemudian gelombang bunyi tersebut menggetarkan udara yang dilalui. Kajian ini dengan istilah fonetik akustik. Kajian ini banyak berhubungan dengan ilmu fisika. Ketiga, bunyi bahasa dapat juga dipelajari dari aspek penerimaan gelombang bunyi oleh alat pendengaran manusia.Kajian ini dikenal dengan istilah fonetik auditoris. Kajian ini juga banyak berhubungan dengan organ sistem pendengaran terutama telinga dan syaraf-syaraf otak yang memproses penerimaan bunyi tersebut, sehingga dapat dimengerti. Kajian ini berkaitan erat dengan bidang ilmu kedokteran, terutama dengan bidang kedokteran syaraf (neurologi).

2.1 Alat-alat Ucap Manusia
Pemahaman terhadap fungsi alat ucap manusia dalam menghasilkan bunyi-bunyi bahasa, merupakan hal yang sangat penting dalam suatu kajian bahasa. Sebab, sesorang tidak akan dapat memahami sebaik-baiknya tentang alat ucap yang menghasilkan bunyi tersebut, tanpa memahami bagaimana alat ucap menghasilkan bunyi bahasa.
Sumber dari bunyi bahasa adalah paru-paru. Paru-paru berkembang dan berkempis untuk menyedot dan mengeluarkan udara. Melalui saluran di tenggorokan, udara keluar melalui mulut atau hidung. Dalam perjalanan melalui mulut atau hidung ini ada kalanya udara itu dibendung oleh salah satu bagian dari mulut sebelum kemudian dilepaskan. Hasil bendungan udara inilah yang menghasilkan bunyi.
Udara yang dihembuskan oleh paru-paru keluar melewati suatu daerah yang dinamakan daerah glotal. Udara ini kemudian lewat lorong yang dinamakan faring (pharynx). Dari faring itu ada dua jalan: yang pertama melalui hidung dan yang kedua melalui rongga mulut. Semua bunyi yang dibuat dengan udara melalui hidung disebut bunyi nasal. Sementara itu, bunyi yang udaranya keluar melewati mulut dinamakan bunyi oral. Perhatikan gambar berikut ini.













Keterangan:
1.bibir atas 9. ujung lidah
2.bibir bawah 10. daun lidah
3.gigi atas 11. depan lidah
4.gigi bawah 12. belakang lidah
5.gusi (alveolum} 13. akar lidah
6.langit-langit keras (palatum) 14. epiglotis
7.langit-langit lunak (velum) 15. pita suara
8.anak tekak (uvula 16. faring

Pada rongga mulut terdapat dua bagian: bagian atas dan bagian bawah mulut. Bagian atas mulut umumnya tidak bergerak (disebut titik artikulasi), sedangkan bagian bawah mulut dapat digerakkan (disebut artikulator). Bagian-bagian ini adalah sebagaimana diuraikan berikut ini.
(a)Bibir: bibir atas dan bibir bawah. Kedua bibir ini dapat dirapatkan untuk membentuk bunyi yang dinamakan bilabial yang artinya dua bibir bertemu. Bunyi seperti [p], [b], dan [m] adalah bunyi bilabial.
(b)Gigi: untuk ujaran hanya gigi ataslah yang mempunyai peran. Gigi ini dapat berlekatan dengan bibir bawah untuk membentuk bunyi yang dinamakan labiodental. Contoh bunyi seperti ini adalah bunyi: [f} dan [v]. Gigi juga dapat berlekatan dengan ujung lidah untuk membentuk bunyi dental, seperti bunyi [d] dan [t] dalam bahasa Indonesia.
(c)Alveolar: daerah ini berada persis di belakang pangkal gigi atas. Pada alveolar dapat ditempelkan ujung lidah untuk membentuk bunyi yang dinamakan bunyi alveolar. Bunyi [t] dan [d] dalam bahasa Inggris adalah contoh bunyi alveolar.
(d)Langit-langit Keras (hard palate): daerah ini ada di rongga atas mulut, persis di belakang daerah alveolar. Pada daerah ini dapat ditempelkan bagian depan lidah untuk membentuk bunyi yang dinamakan alveopalatal, sperti bunyi [c] dan [j].
(e)Langit-langit Lunak (Soft palate): daerah ini, yang juga dinamakan velum, ada di bagian belakang rongga mulut atas. Pada langit-langit lunak dapat dilekatkan bagian belakang lidah untuk membentuk bunyi yang dinamakan bunyi velar, seperti bunyi [k] dan [g].
(f)Uvula: pada ujung rahang atas terdapat tulang lunak yang dinakan uvula. Uvula dapat digerakkan untuk menutup saluran ke hidung atau membukanya. Bila uvula tidak berlekatan dengan bagian atas laring, maka bunyi udara keluar melalui hidung. Bunyi inilah yang dinamakan bunyi nasal. Sebaliknya bila uvula berlekatan dengan dinding laring, maka udara disalurkan melalui mulut dan menghasilkan bunyi yang dinamakan oral.
(g)Lidah: pada rahang bawah, di samping bibir dan gigi, terdapat pula lidah. Lidah merupakan bagian mulut yang fleksibel; dapat digerakkan dengan lentur. Lidah dibagi menjadi beberapa bagian:
(a)Ujung Lidah (tip of the tongue), yakni bagian paling depan dari lidah.
(b)Mata Lidah (blade), yakni, bagian yang berada persis di belakang ujung lidah.
(c)Depan lidah (front), yakni, bagian yang sedikit agak ke tengah, tetapi masih tetap di depan.
(d)Belakang lidah, yakni bagian yang ada di bagian belakang dari lidah.
(h)Pita Suara (Vocal Cords): pita suara adalah sepasang selaput yang berada di jakun (larynx). Selaput ini dapat dirapatkan., dapat direnggangkan, dan dapat dibuka lebar. Status selaput suara ini ikut menentukan perbedaan antara satu konsonan dengan konsonan yang lain.
(i)Faring (Pharynx): saluran udara menuju rongga mulut atau rongga hidung.
(j)Rongga Hidung: rongga untuk bunyi-bunyi nasal, seperti [m] dan [n].
(k)Rongga Mulut: untuk bunyi-bunyi oral seperti [p], [b], [a], dan [i].

2.2 Pembentukan Bunyi Bahasa
Dalam pembentukan bunyi bahasa ada tiga faktor utama yang terlibat, yakni sumber tenaga, alat ucap yang menimbulkan getaran, dan rongga pengubah getaran. Proses pembentukan bunyi bahasa dimulai dengan memanfaatkan pernapasan sebagai sumber tenaganya. Pada saat kita mengeluarkan napas, paru-paru kita menghembuskan tenaga yang berupa arus udara. Arus udara itu dapat mengalami perubahan pada pita suara yang terletak pada pangkal tenggorokan atau laring. Arus udara dari paru-paru itu dapat membuka kedua pita suara yang merapat sehingga menghasilkan ciri-ciri bunyi tertentu. Gerakam membuka dan menutup pita suara itu menyebabkan udara di sekitar pita suara bergetar. Perubahan bentuk saluran suara yang terdiri atas rongga faring, rongga mulut, rongga hidung, menghasilkan bunyi bahasa yang berbeda-beda. Udara yang keluar dari paru-paru dapat melalui rongga mulut, rongga hidung, rongga mulut dan rongga hidung sekaligus. Bunyi bahasa yang arus udaranya keluar melalui mulut disebut bunyi oral. Bunyi bahasa yang arus udaranya keluar dari hidung disebut bunyi sengau atau nasal. Bunyi bahasa yang arus udaranya sebagian keluar melalui mulut dan sebagian keluar dari hidung disebut bunyi yang disengaukan atau dinasalisasi.
Di samping pembagian bunyi nasal dan oral, seperti dinyatakan di atas, bunyi bahasa juga dapat dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu bunyi vokal (vokoid) dan bunyi konsonan (kontoid). Oleh karena itu, perbedaan pembentukan bunyi bahasa didasarkan pada kriteria penggolongan bunyi tersebut. Berikut ini akan diuraikan bagaimana pembentukan kedua bunyi bahasa tersebut.

2.2.1Pembentukan Bunyi-bunyi Vokal
Bunyi yang pengucapannya tidak terhalang, sehingga arus udara dapat mengalir dari paru-paru ke bibir dan keluar tanpa dihambat, tanpa harus melalui lubang sempit, tanpa dipindahkan dari garis tengah ke alurnya, dan tanpa menyebabkan alat-alat supraglotal bergetar, disebut bunyi vokal (vokoid). Pembentukan bunyi vokal ditentukan oleh (1) posisi bibir, (2) tinggi rendahnya lidah, dan (3) maju mundurnya lidah. Perhatikan gambar berikut ini.

Berdasarkan posisi bibir, vokal terdiri dari (1) vokal bundar, yaitu vokal apabila dalam pengucapannya bentuknya bundar, seperti bunyi /o/, /u/, dan /a/; (2) vokal tak bundar, yaitu vokal apabila dalam pengucapannya tidak bundar atau rata, seperti /i/ dan /u/.
Berdasarkan posisi tinggi rendahnya lidah, vokal terdiri dari (1) vokal tinggi, yaitu vokal apabila dalam pengucapannya lidah diangkat dekat ke alveolum (lekung kaki gigi), seperti bunyi /i/ dan /u/ ; (2) vokal tengah, yaitu vokal apabila dalam pengucapannya lidah diangkat sedikit, seperti bunyi /e/ (pepet), dan (3) vokal rendah, yaitu vokal apabila dalam pengucapannya lidah diturunkan serendah-rendahnya, seperti bunyi /a/.
Berdasarkan maju mundurnya posisi lidah yang membentuk ruang resonansi, bunyi vokal dapat dipilah menjadi (1) vokal depan, yaitu vokal yang dibentuk dengan menggerakkan bagian belakang lidah ke arah langit-langi, sehingga terbentuk rongga yang menjadi ruang resonansi, seperti bunyi /i/ dan /e/; (2) vokal tengah atau vokal sentral, yaitu vokal yang dibentuk dengan menggerakkan bagian depan, dan bagian belakang lidah ke arah langit-langit, sehingga ternbentuk rongga resonansi, seperti bunyi /e/ (pepet); (3) vokal belakang, yaitu vokal yang dibentuk dengan cara menggerakkan bagian depan lidah ke arah langit-langit, sehingga terbentuk rongga sebagai resonansi bagian belakang lidah dan langit-langit, seperti bunyi /o/, /u/, dan /a/. Perhatikan tabel klasifikasi berikut ini.
Posisi
Depan
Pusat
Belakang

B
TB
B
TB
B
TB
Atas

i


u

Atas Bawah

I


U

Tengah Atas




O

Tengah






Tengah Bawah

E




Bawah Atas






Bawah

a





Keterangan:
B : Bulat
TB : Tidak Bulat
Dengan menambahkan bunyi-bunyi pengiring (tambahan), maka dapat terjadi vokoid-vokoid yang mengalami modifikasi. Dalam penandaan dapat diberi tanda-tanda tertentu yang disebut dengan diakritik. Vokoid-vokoid itu adalah sebagai berikut.
(1)Vokoid dilabilisasi:
Kedua bibir dibundarkan ketika atau segera setelah bunyi utama diucapkan, sehingga menjadi bunyi [w]. Contoh [bu at].
(2)Vokoid dipalatalisasi
Belakang lidah dinaikkan mendekati platum ketika atau segera setelah bunyi utama diucapkan, sehingga terdengar bunyi [y]. Contoh [bi ar].
(3)Vokoid diglotalisasi
Glotis ditutup sebelum atau setelah bunyi utama diucapkan, sehingga terdengar bunyi [?]. Contoh [?apa] apa, [da?rah] daerah.
(4)Vokoid dinasalisasi
Aliran udara dilewatkan hidung. Contoh [s a a t].

2.2.2Pembentukan Bunyi-bunyi Konsonan
Bunyi yang pengucapannya, arus udara dihambat sama sekali oleh penutupan larynx (tenggorokan) atas jalan di mulut, atau dipaksa melalui lubang sempit atau menyebabkan bergetarnya salah satu alat supraglotal, disebut bunyi konsonan (kontoid). Dengan kata lain, bunyi kononan bergantung pada bergetar atau tidaknya selaput suara, dimana dan bagaimana bunyi konsonan itu diucapkan. Dengan memperhatikan segala faktor untuk menghasilkan konsonan, maka kita dapat membagi konsonan berdasarkan (1) artikulator-artikulator dan titik artikulasinya, (2) halangan udara yang mengalir keluar, (3) turut-tidaknya pita suara bergetar, dan (4) jalan yang dilalui ketika keluar rongga-rongga ujaran. Perhatikan tabel klasifikasi berikut ini.
Jalan
Udara

Alangan
Selaput
Suara
Dasar Ucapan



Artikulator - Titik Artikulasi



BB
LD
AD
AA
AP
FP
DV
GL
Fa
Nasal
B
m

n


n
n



TB










O

R

A

L
Stop
B
b

d

d
j
g




TB
p

t


c
k
?


Spiran
B

v

z







TB

f

s

s
x

h

Lateral
B




l






TB










Trill
B




r






TB










Semi Vokal
B
w




y





TB










Keterangan:
B = Bersuara TB = Tak Bersuara
BB = Bila-Bial LD = Labio-Dental
AD = Apiko-Dental AA = Apiko-Alveolar
AP = Apiko-Platal FP = Fronto-Platal
DV = Dorso-Velar GL = Glotal
Fa = Faringal
Berdasarkan titik artikulasi dan artikulator, bunyi-bunyi konsonan dapat diklasifikasikan sebagai berikut.
(1)Konsonan bi-labial, terdiri dari bunyi [p], [b], dan [m]. Perbedaan antara bunyi kedua yang pertama dengan bunyi yang ketiga terletak pada saluran udara yang dilaluinya. Konsonan [p] dan [b] melewati mulut, karena itu disebut bunyi oral, sedangkan konsonan [m] melalui hidung, karena itu disebut bunyi nasal.
(2)Konsonan Labio-Dental, terdiri dari bunyi [v] dan [f]. Kononan ini dibentuk dengan mempertemukan gigi atas sebagai titik artikulasi dan bibir bawah sebagai artikulatornya.
(3)Konsonan Apiko-Dental, terdiri dari bunyi [t], [d], dan [n]. Konsonan ini dibentuk dengan menempelkan ujung lidah pada bagian pangkal gigi atas dengan sedikit menyentuh bagian depan alveolar.
(4)Konsonan Apiko-Alveolar, terdiri dari bunyi [t], [d], dan [n]. Konsonan ini dibentuk dengan mempertemukan ujung lidah sebagai artikulator dan lekung kaki gigi (alveolum) sebagai titik artikulasi.
(5)Konsonan Dorso-Velar, terdiri dari bunyi [k], [g] dan [n]. Konsonan ini dibentuk dengan menepelkan bagian belakang lidah ke daerah velum.
(6)Konsonan Fronto-Platal, terdiri dari konsonan [c], [j], [n]. Konsonan ini dihasilkan bagian tengah lidah sebagai sebagai artikulator dan langit-langit keras (palatum) sebagai titik artikulasinya.
(7)Hamzah (Glotal Stop), yaitu konsonan yang dihasilkan dengan posisi pita suara tertutup sama sekali, sehingga menghalangi udara yang keluar dari paru-paru.
(8)Konsonan Faringal, yaitu konsonan [h]. Konsonan ini timbul karena pita suara terbuka lebar.
Beradasarkan halangan yang dijumpai udara ketika keluar dari paru-paru, bunyi konsonan diklasifikasikan sebagai berikut.
(1)Konsonan Hambat (Plosif/Stop), terdiri konsonan [p], [b], [k], [d]. Konsonan ini dibentuk karena udara yang keluar dari paru-paru sama sekali dihalangi.
(2)Konsonan frikatif, terdiri dari konsonan [f], [v], [kh]. Konsonan ini dibentuk karena udara yang keluar dari paru-paru digesekkan, sehingga terjadilah bunyi geser atau bunyi frikatif.
(3)Konsonan Spiran, terdiri dari konsonan [s], [z]. Konsonan ini dibentuk karena udara yang keluar dari paru-paru mendapat halangan berupa pengaduan, sementara itu terdengar bunyi desis.
(4)Konsonan Lateral atau Likuida, yaitu konsonan [ l ]. Konsonan ini dibentuk dengan mengangkat lidah ke langit-langit, sehingga udara terpaksa diaduk dan keluar melalui kedua sisi.
(5)Konsonan Getar atau Trill, terdiri konsonan [r], [R]. Konsonan ini dibentuk dengan melekatkan lidah ke alveolum dan seterusnya secara berulang-ulang.
Berdasarkan turut tidaknya pita suara bergetar, konsonan diklasifikasikan sebagai berikut.
(1)Konsonan Bersuara, yaitu konsonan seperti [b], [d], [n], [g], [w], dan sebagainya. Konsonan ini terjadi karena pita suara ikut bergetar.
(2)Konsonan Tak Bersuara, yaitu konsonan seperti [p], [t], [c], [k], dan sebagainya. Konsonan ini terjadi karena pita suara tidak ikut bergetar.
Berdasarkan jalan yang diikuti arus udara ketika keluar dari rongga ujaran, maka konsonan diklasifikasikan sebagai berikut.
(1)Konsonan Oral, yaitu konsonan seperti [p], [b], [d], [k], [w], dan sebagainya. Konsonan ini terjadi karena udara keluar dari rongga mulut.
(2)Konsonan Nasal, yaitu konsonan seperti [m], [n], [n],n]. Konsonan ini terjadi karena udara keluar dari rongga hidung.

2.2.3 Bunyi Semi Vokal, Diftong, dan Suku Kata
Yang dimaksud dengan bunyi semi vokal adalah bunyi vokal yang kehilangan kesonorannya. Sehingga bunyi vokal itu tidak merupakan puncak suku kata lagi. Biasanya setiap kata ditandai oleh adanya bunyi yang paling jelas terdengar, bunyi-bunyi yang demikian ini umumnya diduduki oleh bunyi vokal. Contoh bila ada seseorang dari jarak jauh berteriak ”Hari”, maka bunyi yang paling jelas terdengar adalah [a] dan [i]. Bunyi yang paling jelas terdengar demikian disebut bunyi paling sonor dalam suku kata. Dalam suku kata bunyi tersebut merupakan puncak suku kata dan bersifat silabis. Jadi, setiap suku kata, yaitu satuan ucapan terkecil dalam ujaran, yang awal dan akhirnya selalu berimpit dengan awal dan akhir suatu ucapan tentu ditandai oleh adanyapuncak sonoritas.
Yang dimaksud dengan bunyi diftong adalah kombinasi bunyi vokal dengan bunyi semi vokal. Kedua bunyi itu harus terdapat dalam satu suku kata. Proses terbentuknya mulai dari satu bunyi vokal menuju ke bunyi vokal lain dalam satu kali hembusan nafas. Dalam transkripsi biasanya ditandai dengan deretan bunyi vokal silabis dan bunyi vokal non-silabis.
Tanda permulaan menunjukkan letak alat bicara pada taraf awal, sedangkan tanda kedua menunjukkan arah kemana gerak alat bicara tersebut, dan merupakan batas kemungkinan bergerak andaikata diftong itu diucapkan penuh. Diftong bahasa Indonesia merupakan diftong menutup (bukan diftong membuka), sebab diftong bahasa Indonesia dimulai dari bunyi vokal rendah menuju bunyi vokal yang lebih tinggi. Perhatikan peta berikut ini.
i ---------------------------------------------- u
e --------------------------------------- o
E --------------------------------- O
a --------------------------- .
[ a y ], [ Ey ], [ Oy], [ aw ], [ .w ]

2.2.3Bunyi Suprasegmental
Bunyi segmental terwujud bersama-sama dengan ciri suprasegmental, seperti tekanan, jangka, dan nada. Di samping ciri suprasegmental itu, pada untaian tuturan terdengar pula ciri suprasegmental lain, yaitu intonasi dan ritme (irama).
Dalam kalimat tidak semua kata mendapat tekanan yang sama. Biasanya kata yang dianggap penting saja yang diberi tekanan. Tekanan yang demikian lazim disebut aksen. Persepsi mengenai aksen itu tidak hanya ditentukan faktor tekanan (keras lembutnya suara), tetapi juga oleh faktor jangka (panjang pendeknya suara), dan nada (tinggi rendahnya suara). Sebuah suku kata akan terdengar menonjol atau mendapat aksen jika suku kata itu dilafalkan dengan waktu yang relatif panjang daripada waktu untuk suku kata yang lain. Suku kata itu juga dilafalkan dengan nada yang tinggi.
Dalam bahasa tulisan, tanda baca mempunyai peranan yang sangat penting. Suatu kalimat yang terdiri atas kata yang sama dengan dalam urutan yang sama dapat mempunyai arti yang berbeda, bergantung pada tanda baca yang kita gunakan. Kalimat seperti Dia mau pergi. dapat merupakan pernyataan, jika diakhiri dengan titik (.). Akan tetapi, jika dikahiri dengan tanda tanya (?), maka kalimat itu berubah menjadi pertanyaan Dia mau pergi?. Sebalinya, dalam bahasa Indonesia mengikuti ritme yang berdasarkan jumlah suku kata. Makin banyak suku kata, jeda yang menyatakan batas kata, frasa, atau klausa dapat ditandai dengan garis miring [/]. Contoh: Jono /di sini /sekarang. Amin /muridnya.
2.33/2 3 1 #
Intonasi mengacu ke naik-turunnya nada dalam pelafalan, sedangkan ritme mengacu ke pola pemberian tekanan pada kata dalam kalimat. Oleh karena intonasi merupakan perubahan titinada dalam berbicara, maka intonasi sering dinyatakan dengan angka (1 2 3, yang melambangkan titinada) atau bulatan yang ditempatkan dalam suatu skala seperti pada balok not musik. Penggunaan angka lebih ekonomis, tetapi tidak mudah terlihat perubahan titinadanya. Untuk menggambarkan secara garis besar kontur intonasi, pola gabungan titinada sering dipergunakan garis.
Contoh: (1) Dua (2) Dua (3) Dua
231#
(4) Di mana? (5) Di mana?
233# ------

3. Fonemik
3.1 Fonem
Bunyi-bunyi bahasa yang dapat membedakan arti disebut dengan fonem. Cara membuktikan suatu bunyi disebut fonem dalam suatu bahasa adalah dengan cara mencari pasangan minimal (minimal fair) dari kata-kata yang kontras atau kata-kata yang berbeda arti. Bunyi-bunyi yang perlu dibuktikan sebagai fonem atau tidak adalah bunyi-bunyi yang mempunyai kesamaan fonetis atau kesamaan ucapan. Perhatikan klasifikasi berikut.
Bunyi yang Dicurigai
Pasangan Minimal yang Dioposisikan
Fonem
[ i ]
[ e ]
[ u ]
[ o ]
[ b ]
[ t ]
[ c ]
[ k ]
[ x ]
[ f ]
[ m ]
[ l ]
[ a ]
[ a ]
[ i ]
[ a ]
[ p ]
[ d ]
[ j ]
[ g ]
[ k ]
[ p ]
[ n ]
[ r ]
[ b i l a ]
[ s e r I ]
[ d u r I ]
[ k o t a ]
[ b a k u ]
[ t a r i ]
[ c u r i ]
[ k a l i ]
[ x a s ]
[ k a f a n ]
[ n a m a ]
[ l a g u ]
[ b a l a ]
[ s a r i ]
[ d i r i ]
[ k a t a ]
[ p a k u ]
[ d a r i ]
[ j u r i ]
[ g a l i ]
[ k a s ]
[ k a p a n ]
[ m a m a ]
[ r a g u ]
/ i /
/ e /
/ u /
/ o /
/ b /
/ t /
/ c /
/ k /
/ x /
/ f /
/ m /
/ l /
/ a /
/ a /
/ i /
/ a /
/ p /
/ d /
/ j /
/ g /
/ k /
/ p /
/ n /
/ r /

Catatan:
Pasangan minimal: dua kata atau lebih, hanya berbeda satu fon saja.
3. 2 Realisasi dan Distribusi Fonem
Realisasi fonem berarti ucapan tiap fonem. Realisasi itu antara orang yang satu dengan yang lain tidak sama. Hasil distribusi itu adalah varian atau alofon. Yang dimaksud dengan distribusi fonem adalah penyebaran fonem pada posisi awal, tengah, atau akhir kata. Contoh realisasi dan distribusi fonem dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Fonem
Realisasi
Posisi


Awal
Tengah
Akhir
/ i /





/ u /




/ e /



/ o /
[ i ]
[ ?i ]
[?i: ]
[ i: ]
[ I ]
[ ’I ]
[ u ]
[ ?u ]
[ U ]
[ u? ]
[ u: ]
[ e ]
[ ?e ]
[ E ]
[ ’E ]
[ o ]
[ ?o ]
[ O ]
[ ?O ]

[ ?itu ]
[ ?i:man ]


[ ’Indonesia ]

[ ?ulan ]


[ ru:sa? ]

[ ?ekor ]

[ ’EnsEl ]

[ ?oto ]

[ ?OlO? ]
[ tinggi ]


[ hi:dun ]
[ mIskIn ]
[ fi’Il ]
[ sudah ]

[ burUn ]


[ boleh ]

[ nEnE? ]

[ gorEn ]

[ j rO ]
[ hari ]





[ tugu ]




[ sore ]



[ s o t o ]











3.3 Gugus Konsonan (Kluster)
Yang dimaksud dengan gugus konsonan adalah beberapa konsonan yang merupakan satu kesatuan. Gugus konsonan merupakan anggota sebuah suku kata. Sebagai gambaran dapat diperhatikan pada klasifikasi berikut.
Gugus
Bagan
Posisi


Awal
Tengah
Akhir
/ pl /
/ bl /
/ tl /
/ kl/
/ gl /
/ fl /
/ sl /
/ xl /

/ pr /
/ br /
/ tr /
/ dr /
/ kr /
/ gr /
/ fr /
/ sr /
/ ps /
/ ks /
/ rs /
/ ty /
/ dy /
/ dw /
/ sw /
/ sp /
/ spr /
/ st /
/ str /
/ sk /
/ skr /
p
b
t
k
g
f l
s
x

p
b
t
d
k r
g
f
s
p
k s
r
t
d y
d
s
p -
p r
S t -
t r
k -
k r
/ plasma /
/ blanko /

/ klinik /
/ global /
/ flamboyan /
/ slogan /


/ pra /
/ brahma /
/ tri /
/ drama /
/ kritik /
/ gram /
/ frater /
/ sri raja /
/ psikologi /
/ ksatria /



/ dwi /
/ swadaya /
/ spontan /
/ sprey /
/ studio /
/ strika /
/ skala /
/ skripsi /
/ kompleks /
/ gamblang /
/ mutlak /

/ isoglos /
/ inflasi /

/ ixlas /

/ supra /
/ obral /
/ putra /
/ adress /
/ mikroskop /

/ diafragma /


/ ekspres /

/ stya /
/ madya /





/ instruksi /

/ manuskrip /



















/ pers /





















3.4 Deret Vokal
Yang dimaksud deret vokal adalah vokal-vokal yang berurutan dan masing-masing bersifat silabis. Jadi masing-masing vokal merupakan anggota suku yang berlainan.

Deret Vokal

Bagan
Posisi


Awal
Tengah
Akhir
/ i - i /
/ i - e /
/ i - u /
/ i - o /
/ i - a /
/ e - i /
/ e - u /
/ e - o /
/ e - a /
/ u - i /
/ u - e /
/ u - u /
/ u - o /
/ u - a /
/ o - i /
/ o - e /
/ o - a /
/ a - i /
/ a - e /
/ a - u /
/ a - o /
/ a - a /
i
e
i u
o
a
i
e u
o
a
i
e
u u
o
a
i
o e
a
i
e
a u
o
a



/ ion /
/ ia /








/ uap /


/ oase /
/ air /
/aerodinamik /
/ aus /
/ aorta /
/ fiil /
/ orientasi /
/ hiu /
/ kios
/ rian /
/ ateis /
/ museum /


/ puin /
/ duel /
/ suun /
/ kuotum /
/ ruan /
/ boikot /
/ koefisien /

/ baik /

/ haus /

/ saat /



/ folio /
/ dia /


/ beo /
/ idea /

/ duel /

/ dua /



/ kacoa /


/ mau /




3.5 Struktur Fonem dalam Suku Kata
Yang dimaksud struktur fonem adalah susunan fonem (mungkin vokal, mungkin diftong, mungkin konsonan) dalam suku kata. Struktur fonem yang dijumpai dalam struktur kata bahasa Indonesia itu sebagai berikut.
No.
Struktur
Suku
Data fonemis
1.
Puncak
V
D

/ a /
/ aw /

/ a k u /
/ a w l a /
2.
Omset + Puncak
K + V
K + D
KK + V
KKK + V

/ pa /
/ tay /
/ tra /
/ stri /

/ pada /
/ santay /
/ tradisi /
/ strika /
3.
Puncak + Koda
V + K
V + KK

/ ar /
/ eks /

/ arti /
/ eks /
4.
Omset + Puncak + Koda
K + V + K
KK + V + K
K + V + KK
KKK + V + K

/ tim /
/ span /
/ pleks /
/ skrip /

/ timban /
/ spanduk /
/ kompleks /
/ skripsi /

Keterangan:
V = Vokal
D = Diftong
K = Konsonan
Puncak = Vokal silabis (puncak sonoritas dalam sebuah suku kata)
Omset = Konsonan yang mendahului vokal (silabis) dalam sebuah suku kata.
Koda = Konsonan yang mengikuti vokal (silabis) dalam suku kata.

Daftar Rujukan
Alwi, Hasan dkk. (eds.). 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta:
Balai Pustaka.

Alwasilah, A. Chaedar. 1992. Beberapa Madhab dan Dikotomi Teori Linguistik.
Bandung: Angkasa.

Busri, Hasan. 1997. Dasar-dasar Linguistik. Malang: FKIP Universitas Islam Malang.

Busri, Hasan. 2003. Sintaksis Bahasa Indonesia. Malang: FKIP Universitas Islam Malang.

Busri, Hasan. 1997. Analisis Wacana: Teori dan Penerapannya: FKIP Universitas
Islam Malang.

Busri, Hasan. 2003. Bahasa Indonesia Laras Hukum. Jurnal Ilmiah Buana, Edisi XX Tahun 2000. Universitas Islam Malang.

Purwo, Bambang Kaswanti (Ed.). 2000. Kajian Serba Linguistik untuk Anton
Moliono Pereksa Bahasa. Jakarta: Universitas Katolik Indonesia
Atmajaya.

Purwo, Bambang Kaswanti (Ed.). 1997. PELLBA 10 Pertemuan Linguistik Lembaga Bahasa Atmajaya Kesepuluh.. Jakarta: Universitas Katolik Indonesia Atmajaya.

Purwo, Bambang Kaswanti (Ed.). 1997. PELLBA 6 Pertemuan Linguistik Lembaga Bahasa Atmajaya Kesepuluh.. Jakarta: Universitas Katolik Indonesia Atmajaya

Dardjowidjojo, Soejono. 2005. Psikolinguistik Pengantar Pemahaman Bahasa
Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Purwo, Bambang Kaswanti (Ed.). 2000. Kajian Serba Linguistik untuk Anton
Moliono Pereksa Bahasa. Jakarta: Universitas Katolik Indonesia
Atmajaya.

Rusyana, Yus dan Samsuri (eds.). 1983. Pedoman Penulisan Tatabahasa
Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sampson, Geoffrey. 1980. Schools of Linguistics Competition and Evaluation.
London: Hutchinson.

Samsuri. 1988. Berbagai Aliran Linguistik Abad XX. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi,
P2LPTK.

Samsuri. 1987. Analisis Bahasa: Memahami Bahasa Secara Ilmiah. Jakarta:
Erlangga.

Wahab, Abdul. 1990. Butir-butir Linguistik. Surabaya: Airlangga University
Press.

Wahab, Abdul. 1991. Isu Linguistik Pengajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya:
Airlangga University Press.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar